Surabaya — Sebuah musibah besar melanda kawasan padat penduduk di Jemur Wonosari, Surabaya. Tujuh unit rumah semi permanen ludes dilalap api dalam hitungan menit, meninggalkan para penghuninya tanpa tempat berlindung dan kehilangan hampir seluruh harta benda yang mereka miliki. Kejadian tersebut menorehkan duka mendalam, tidak hanya bagi para korban langsung, tetapi juga bagi seluruh warga di sekitar lokasi.

Pak Sutrisno, salah satu korban sekaligus saksi mata peristiwa itu, mengisahkan bagaimana api tiba-tiba membesar dengan cepat dan warga tidak mampu memadamkannya sebelum rumah-rumah tersebut habis terbakar. “Api datang tiba-tiba, cepat sekali menyebar. Kami tidak bisa berbuat banyak,” tuturnya.

Komitmen Sosial Roof To Floor

Pak Sutrisno, salah satu korban

Keterbatasan Bantuan Pemerintah di Lahan Sewa

Proses pemulihan pascakebakaran tidak berjalan mulus. Komplikasi muncul ketika diketahui bahwa rumah-rumah yang terbakar berdiri di atas lahan sewaan, bukan lahan milik sendiri. Kondisi ini membuat pemerintah setempat hanya dapat memberikan bantuan darurat berupa makanan dan pendataan korban, namun tidak dapat menyalurkan bantuan untuk renovasi maupun pembangunan kembali hunian.

Keterbatasan regulasi tersebut membuat proses pemulihan terasa berat di pundak para korban. Meski bantuan dari LSM, relawan, dan warga sekitar terus mengalir, kebutuhan utama yakni tempat tinggal yang aman dan layak belum dapat terpenuhi sepenuhnya.

Payung Harapan: Ketika Kepedulian Menjadi Tindakan Nyata

Komitmen Sosial Roof To Floor

Bantuan material bangunan oleh RTF

Di tengah situasi yang sulit itulah, Roof To Floor, hadir melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Payung Harapan.

Dalam kasus ini program payung harapan bukan merupakan bentuk kerja sama komersial, melainkan murni sumbangan yang diberikan secara langsung kepada para korban. Melalui program ini, perusahaan menyalurkan bantuan berupa atap dari brand DR.SHIELD untuk mendukung proses pembangunan kembali rumah para korban kebakaran.

Langkah tersebut menjadi hal penting dalam proses pemulihan. Para korban yang sebelumnya tidak tahu harus memulai dari mana, kini memiliki titik awal yang konkret untuk kembali membangun kehidupan mereka.

Suara dari Lapangan

Bantuan yang diterima disambut dengan penuh syukur oleh para korban. Salah satu penerima manfaat mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang datang di saat paling dibutuhkan.

“Kami tidak menyangka ada bantuan seperti ini. Ini sangat membantu kami untuk bisa mulai membangun lagi,” ujar salah satu warga terdampak.

Testimoni serupa juga disampaikan oleh warga lainnya yang merasakan langsung dampak dari program Payung Harapan. Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar material bangunan, tetapi juga simbol bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan berat ini.

Tanggung Jawab Sosial sebagai Bagian dari DNA Perusahaan

Setelah proses pemulihan dan renovasi

Bagi Roof To Floor, keterlibatan dalam momen-momen sulit seperti ini merupakan cerminan dari nilai yang dipegang perusahaan sejak awal berdiri. Kehadiran di tengah masyarakat bukan hanya soal bisnis, tetapi tentang bagaimana sebuah perusahaan memilih untuk bersikap ketika masyarakat di sekitarnya membutuhkan uluran tangan.

Program CSR Payung Harapan bukan kali pertama perusahaan bergerak dalam isu sosial dan kemanusiaan. Inisiatif semacam ini mencerminkan komitmen jangka panjang untuk turut serta dalam pembangunan masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya.

Harapan yang Mulai Terbangun Kembali

Kini, di atas puing-puing yang tersisa, proses pembangunan perlahan berjalan. Atap-atap baru mulai berdiri, dan keluarga-keluarga yang sempat kehilangan segalanya mulai melihat cahaya.

Kisah kebakaran Jemur Wonosari adalah pengingat bahwa dalam setiap bencana, harapan dapat datang dari arah yang tak terduga. Kini, di atas puing-puing yang tersisa, kehidupan perlahan kembali berdenyut. Atap-atap baru mulai berdiri, dan keluarga-keluarga yang sempat kehilangan segalanya mulai menatap hari esok dengan lebih lapang.